•  
  • MENEBAR HIKMAH, MENUAI HIDAYAH
Selasa, 17 Agustus 2010 - 09:46:49 WIB
'Dosa' Manusiawi Dzun Nun
Diposting oleh : admin
Kategori: General - Dibaca: 536 kali

Dzun Nun demikian Al Qur'anul kariim telah memuat nama itu dalam suatu kisah yang penuh makna dan i'tibar. Hikayat Dzun Nun (Yunus) adalah sumber renungan bagi mereka yang menisbatkan diri sebagai pelanjut imperatif abadi misi profetik. Inspirasi yang mengabarkan ketegangan titik nadir kemanusiaan seorang Rasul dan kuasa tanpa batas pemilik semesta.

Ia tak melakukan dosa atau kesalahan yang merusak diri dan masyarakatnya. Ia hanya lelah, ia hanya marah. Perkara yang sangat manusiawi dan layak memperoleh pemakluman yang alamiah. Bukan aneh jika marah karena seluruh laku juang berujung acuh. Siapa yang tidak kesal ketika semua upaya tak menyentuh sedikitpun tanda-tanda bahagia. Ia hanya lelah, ia hanya marah. Sikap manusiawi yang lumrah.

Namun baginya marah itu menjadi salah, lelah itu bukan satu hal yang lumrah. Pemegang kuasa semesta tak bisa menerima itu. Pemilik sembilan puluh sembilan nama itu tak memberi toleransi  batas yang secara dzahir sangat manusiawi karena Dzun Nun adalah Rasul. Ya, karena ia adalah Rasul. Maka baginya tak ada pemakluman untuk marah karena ummat yang diserunya membatu dalam acuh. Tak boleh baginya lelah karena ikhtiarnya membentur kegelapan nirharapan.

Maka ketika dia menapakkan langkah-langkahnya menjauh dari situasi tanpa harap itu, Allah menyiapkan untuknya tempat yang jauh lebih gelap, perut nun. "Dan (ingatlah  kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu mereka menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: 'Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang-orang yang zalim.'" (QS. Al Anbiyaa': 87). "Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela." (QS. Ash Shaaffaat: 142).

Bukan karena dosa dan aniaya, derajatnya dihempaskan dalam kenistaan isi perut ikan. Hanya karena Dzun Nun terjebak dalam harapan yang melewati ruang kuasanya. Ia lupa bahwa perannya adalah menyeru. Tugasnya tak lebih kecuali menyampaikan dengan gugus gagasan yang dimilikinya. Dengan perhatian dan curah tenaga yang menyentuh batas kemampuan. Dan akhirnya soal kesadaran dan hidayah biarlah menjadi bagian dari ruang tawakal. Hidayah, mutlak wilayah pemegang hati.

Harapan Dzun Nun yang melampaui ruang kemestiannya mendesaknya dalam kemarahan, kelelahan dan berujung pada serapah dan menyerah. Meninggalkan ummat yang kukuh dalam acuh menjadi pilihan yang paling masuk akal. Akhirnya, bukan Dzun Nun yang dapat menshibghah ummatnya, bukan kasih sayang dan keimanannya yang memberi warna pada mad'unya, justru Dzun Nun ikut terjebak dalam acuh dan tak hirau. Sikap ummat yang mesti diubahnya menjadi pilihan sadar yang dipeluknya.

Riwayat Dzun Nun memberikan pembelajaran bahwa imperatif juru da'wah adalah menyeru, sampai segenap lidah kelu dan setiap daya hidup habis tak bersisa, selebihnya serahkan kepada Allah yang serba maha. Dengan begitu, frustasi tidak akan menjebak semangat dan iltizam kita. Sehingga tidak ada lelah yang membuat kita hengkang dari perhatian terhadap ummat.

Kegagalan penerus misi profetik bukan terletak pada tidak berubahnya masyarakat dan ummat yang dibersamai, tetapi pada pupusnya perhatian dan semangat untuk membersamai ummatnya. Titik mula misi profetik adalah 'ukhrijat linnaass', aktivasi sejarah, ada bersama ummat. Maka menjadi 'dosa' ketika Rasul dan pelanjut perjuangan meninggalkan ummatnya, bahkan dengan alasan yang semasuk akal apapun. Mungkin kesadaran inilah yang sedemikian kuat digenggam oleh Muhammad SAW, hingga akhir nafasnya dalam patah sengal hirup udara terakhir kata yang terucap adalah 'ummati-ummati'. Wallahu a'lam. [
by Sujatmika Dwiatmaja]


0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)