•  
  • MENEBAR HIKMAH, MENUAI HIDAYAH
Sabtu, 07 Agustus 2010 - 16:13:26 WIB
Memasyarakatkan Masjid, Memasjidkan Masyarakat
Diposting oleh : admin
Kategori: Opini - Dibaca: 417 kali

Masjid, apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata “Masjid”? tempat ibadah umat islam, yups..!!! hanya itu sajakah?? Apakah masjid sekedar untuk beribadah? UNY dengan MASMUJA, sapaan keren Masjid Mujahidin apakah sekedar untuk tempat ibadah? Sungguh sangat disayangkan, masjid semegah itu sekedar tempat ibadah semata.

Masjid berasal dari bahasa Arab sajada yang berarti tempat sujud atau tempat menyembah Allah SWT. Bumi yang kita tempati ini adalah masjid bagi kaum muslimin. Setiap muslim boleh melakukan shalat di wilayah manapun di bumi ini terkecuali di atas kuburan, di tempat yang bernajis, dan di tempat-tempat yang menurut ukuran syariat islam tidak sesuai untuk dijadikan tempat shalat.

Taukah kalian, pada zaman Rasulullah masjid tidak sekedar tempat ibadah saja namun lebih dari itu.  Di masa Nabi Muhammad SAW, masjid menjadi pusat atau sentral kegiatan kaum muslimin. Masjid menjadi pusat pendidikan, pengajaran dan pengembangan ilmu, khususnya al Islam. Kegiatan di bidang politik, ekonomi, sosial peradilan dan kemiliteran dibahas dan dipecahkan di lembaga masjid. Masjid berfungsi pula sebagai pusat pengembangan kebudayaan islam. Masjid pertama yang di bangun adalah masjid Quba, masjid ini adalah pengejawantahan dan lambang keberanian kaum perintis dalam mengemukakan jati dirinya. Lebih dari itu masjid Quba adalah bentuk rumah ibadah pertama umat Islam yang lantas menjadi model dimasa-masa selanjutnya. Posisi masjid Quba bertambah istimewa karena masjid tersebut merupakan salah satu dari tiga masjid yang dicantumkan dalam Al Qur’an. Dua yang lain adalah masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsa.

Sebagian besar dari kita pasti mengetahui fenomena yang terjadi sekarang ini. Masjid banyak didirikan namun seringkali menemukan masjid-masjid kosong, saat waktu shalat tiba pun masjid tidak penuh padahal mayoritas masyarakat di negeri ini beragama islam. Begitupula dengan kampus pendidikan kita ini, penulis yakin sebagian besar mahasiswa di kampus profetik ini muslim. Namun realita yang ada banyak masjid yang tampak megah tetapi sepi dari aktivitas, padahal sejarahnya masjid telah menjadi pusat kegiatan umat islam baik ibadah, ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya.

Kita sebagai generasi muda muslim memiliki tugas untuk mengembalikan fitrah masjid. Untuk itulah kita harus senantiasa Memasyarakatkan Masjid, Memasjidkan Masyarakat. Seperti salah satu pesan yang pernah disampaikan oleh rektor kita dulu Alm. Prof. Sugeng Mardiono Ph.D. pada saat ceramah tarawih hari pertama Ramadhan 1429H beberapa hari sebelum beliau meninggal.

Nah, sekarang tibalah peran kita, sebagai generasi profetik untuk Mencintai Masjid dengan cara memakmurkannya. Kita harus benar-benar khawatir (jika sampai) tergolong ke dalam kaum (zaman) yang disebut dalam peringatan Nabi Muhammad SAW:

”Masjid-masjid dibangun megah, tetapi sepi dari pelaksanaan petunjuk Allah.” (HR. Baihaqi)

Apalagi semerbak wangi harum tamu agung Ramadhan telah terasa kian dekat, mari kita memasyarakatkan masjid dan memasjidkan masyarakat dengan menjadikan masjid sebagai episentrum aktivitas membangun peradaban islam. Wallahu’alam

 

                                                                                                                Siti Nur Aeni, Aktivis Trans-F UNY



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)