Selasa, 05 Januari 2010 - 21:05:34 WIBPada Mulanya adalah GagasanDiposting oleh : Zen Al Faruq
Kategori: Keislaman
- Dibaca: 48 kali
Wajahnya menunjukkan binar dan hasrat yang dalam. Ia datang pada sepotong senja yang ditinggalkan matahari. Seorang lelaki muda dengan keinginan menggebu untuk segera mengakhiri masa kesendirian. Saya telah mengenalnya cukup lama, dan ketika senja itu ia kemukakan keinginannya untuk segera menikah, saya menyambutnya gembira. Tapi setelahnya semua berubah menjadi kemasygulan.
"Saya menghendaki istri saya hafidz Qur'an," katanya mantap.
"Sekedar itukah?" tanya saya, mencoba memancingnya.
"Dia harus lebih muda dari saya." Saya manggut-manggut saja.
"Masihkah ada yang lain?"
"Kalau bisa dia telah lulus dan lebih mapan secara ekonomi," jawabnya dengan kemantapan yang tidak surut sejak awal.
"Kamu sendiri belum lulus dan masih bergantung dengan orang tua," kata saya hendak mematahkan. Namun, semangatnya terlihat tidak surut. Keinginannya terus menyala.
"Itulah sebabnya," katanya, "Saya menghendaki yang telah lulus dan sudah bekerja." Saya diam sejanak.
"Bagaimana dengan penampilan?"
"Nah, kalau yang itu otomatislah. Saya menghendaki yang cantik!"
Saya dibuatnya masygul sore itu. Saya berhadapan dengan anak muda yang bersemangat memasuki kehidupan rumah tangga tanpa motif yang jelas, kecuali sebuah lukisan keindahan yang tak memaklumkan cela secuilpun.
"Saya kira kriteria itu tidak terlalu susah dipenuhi," kata saya, "Masalahnya dua saja."
"Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Pertama, mungkin agak susah menemukan wanita yang memenuhi semua kriteria itu yang bersedia menikah dengan Anda."
"Kedua," kata saya sambil berseloroh, "Jika seluruh kriteria itu saya temukan melekat pada seorang akhwat, agak bodoh kalau saya serahkan pada Anda."
Melalui kisah di atas saya ingin berbagi tentang gagasan awal saat kita berkehendak untuk berkeluarga. Betapa banyak di antara kita memandang pasangan kita sebagai sebuah final atas kesempurnaan pribadi. Dengan memperoleh kesempurnaan dalam diri kekasih kita, kita berharap kebahagiaan dengan mudah menghampiri. Sungguh betapa banyak yang berpikir demikian. Gagasan awal ini memberikan dorongan amat kuat dalam diri kita untuk 'menuntut' kesempurnaan pasangan hidup kita. Maka kisah yang saya sajikan di atas pada mulanya terpengaruh oleh pikiran seperti ini: carilah pasangan hidup sesempurna mungkin dan yakinlah engkau akan bahagia!
Sederhana saja jalan pikiran ini bekerja. Tapi ia memberikan efek yang luar biasa pada cara pandang kita terhadap kekasih dan keluarga. Berawal dari gagasan tentang kebahagiaan bermuara pada kesempurnaan pasangan, maka lahirlah tuntutan. Kita menghendaki pasangan kita adalah bidadari yang turun dari surga. Sesosok kekasih yang berselimut kesempurnaan layaknya dalam dongeng. Mungkin juga sebaliknya. Kita menuntut suami kita adalah pribadi para Nabi yang dibersihkan dari segala cela.
Jika pernikahan telah berjalan dan ternyata seluruh atau sebagian harapan kesempurnaan itu memudar dari kekasih kita, maka bahasa imperatif akan mudah keluar dari lisan kita. Mendadak saja kita bagaikan seorang mandor yang berteriak-teriak kasar kepada buruh. Kita merasa berkuasa dan memiliki kekasih kita, sehingga dengan seenaknya pula kita menuntutnya untuk tampil prima. Jika langkah ini yang kita tempuh, maka sebenarnya kita mulai mengoyak sendiri tirai kebahagiaan itu.
Tetapi pikiran yang menghendaki kekasih kita adalah sosok tanpa cela juga akan menyebabkan terjadinya atribusi perilaku. Yaitu, tindakan yang sering dilakukan untuk menilai orang lain sebagai sebuah karakter tetap, sementara menilai diri sendiri sebagai sebuah proses. Mudahnya begini. Jika suatu saat kita pulang ke rumah dan mendapati istri kita tertidur pulas, sementara halaman rumah masih terlihat kotor, serta merta kita memberikan label karakter pada diri istri kita. "Kamu memang benar-benar malas!" Malas adalah karakter. Kita tidak menelisik lebih jauh dan mencoba memahami istri, tetapi langsung menuduhnya.
Lain halnya jika kondisi itu terjadi dalam diri kita. Kalau suatu saat kita tertidur maka kita tidak akan menilai bahwa kita malas, tetapi kita melihatnya sebagai sebuah proses, bukan karakter. "Oh, wajar ya, saya tertidur. Soalnya saya sedang capek banget!" Tertidur adalah proses, bukan karakter. Berbeda halnya dengan malas.
Kenapa kita tidak mengatakan sebaliknya? "Istriku tertidur demikian pulas, barangkali ia sangat capek." Inilah atribusi perilaku. Pada banyak kasus kita sering melakukannya. Tidak saja kepada istri. Kepada anak, teman kerja, tetangga kita sering kali melakukan atribusi perilaku.
Kita selalu memandang ke luar, kepada orang lain. Kita sering lupa untuk melihat diri sendiri. Saya sendiri menilai bahwa pernikahan adalah proses belajar. Ini dimulai dari kesadaran bahwa tidak ada satu pribadi pun yang mampu memenuhi seluruh hasrat kesempurnaan kita terhadap sosok pribadi. Setiap orang menyimpan kelemahan. Sudut pandang kita sajalah yang menempatkan kelemahan seseorang cukup berarti ataukah tidak. Orang-orang yang dalam dirinya dilabelkan pahlawan tidak serta merta mereka bersih dari kekurangan, tapi sudut pandang sebagian kitalah yang melihat bahwa kelebihan yang dimilikinya lebih dominan.
Betapa banyak di antara kita menghendaki istri kita bagaikan pribadi Aisyah: cantik, muda, dan cerdas! Tapi siapa di antara kita siap untuk menjadi Muhammad yang dengan kesabaran mengagumkan bersedia bersabar mendengarkan kemarahan dan kecemburuan Aisyah? Begitu pula sebaliknya. Ada banyak wanita menginginkan suaminya adalah pribadi-pribadi Muhammad yang mempesona. Tapi, siapa yang telah menyiapkan diri untuk dapat menerimanya secara utuh, membelanya dalam rintangan hidup, dan menguatkannya dalam kesedihan seperti yang pernah dilakukan Khadijah? Kita memang selalu menuntut orang lain, tapi kurang sigap untuk menyiapkan diri.
Rumah tangga adalah sekolah bagi kita untuk tumbuh dan berkembang. Masing-masing di antara kita adalah guru yang mampu saling menguatkan. Seperti sebuah kerja di dalamnya yang dilakukan untuk saling melengkapi. "Demi Allah," kata Ali bin Abi Thalib kepada Fatimah, istrinya, "Aku selalu menimba air dari sumur sehingga dadaku terasa sakit." Fatimah yang diajak bicara menimpali,"Dan aku, demi Allah, memutar penggiling hingga kedua tanganku melepuh." [Kisah riwayat Ahmad di atas dinukil Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari]
Pada mulanya adalah gagasan. Dari pikiran apa sesungguhnya kita mengawali pernikahan? Jawabannya tentu kita simpan sendiri-sendiri.
sumber:
notes facebook Pak Dwi Budiyanto
3 Komentar :
zen Selamat menjalankan amanah, Akhi... Kami akan selalu mendukungmu... Sampaikan kebenaran dan berikan pencerahan melalui tulisan, selalu...
bayu Bismillah, langkah emas membangun peradaban islam yang lebih luas diawali dengan pijakan membumikan tulis-menulis
salman salut buat temen2 dakwah kampus uny, tetap istiqomah dalam memberikan kebermanfaatan bagi umat agar Islam sbg rahmatan lil'alamin terealisasi adanya. : -)
Isi Komentar :