Kamis, 03 September 2009 - 14:23:44 WIB
Jelajah Hati: Kusambut Kedatanganmu Wahai Ramadhan!
Diposting oleh : Zen Al Faruq
Kategori: Kajian Kampus - Dibaca: 191 kali


Mengejar Perjalanan Matahari
Setiap orang -mungkin- mendefinisikan apa itu hidup dengan pengertian yang berbeda-beda. Di sini, jika definisi hidup adalah perjalanan mengejar matahari, maka akan ada tiga golongan manusia. Pertama, manusia yang berjalan bersama matahari, yakni manusia yang sikap dan kepribadiannya sama dengan usianya. Kedua, manusia yang tertinggal jauh dari matahari, yakni manusia yang sikap dan kepribadiannya tidak sesuai dengan usianya. Dan yang terakhir, manusia yang berjalan mendahului matahari.
     Jika ada seorang anak kecil yang berusia tiga tahun diajak ke masjid dan dia justru berlarian saat orang-orang sedang shalat, kita akan menganggap 'Maklum, masih anak kecil.' Sama, jika ada seorang yang sudah dewasa dan melakukan shalat dengan khusyu', maka akan dianggap biasa, tidak dianggap sesuatu yang luar biasa -dibanding anak kecil tadi. Inilah yang dinamai manusia yang berjalan bersama matahari. Dia akan berbuat sebagaimana umumnya.
     Sedang ada seseorang yang sikap dan perbuatannya tidak sebanding dengan usianya. Semisal orang yang katakanlah sudah mahasiswa, tetapi masih suka marah-marahan kepada sesamanya, layaknya anak kecil. Inilah manusia yang berjalan tertinggal jauh dari matahari.
     Dan inilah golongan manusia yang mengagumkan, manusia yang berjalan mendahului matahari. Jika seorang anak berusia tiga tahun biasanya akan bermain-main ketika orang-orang sedang shalat di masjid itu biasa, maka berbeda dengan golongan yang ini. Bisa jadi anak usia berusia tiga tahun shalat khusyu' selayaknya orang dewasa. Contoh nyata dalam kehidupan kita, seorang anak yang disebut "amazing child." Dialah seorang anak berusia lima tahun yang hafidz (hapal) Qur'an, bahkan bukan sekedar hapal, tetapi ia mampu mengimplementasikan ayat-ayat Robbani itu dalam kesehariannya. Ketika ada seorang ustadz yang berkunjung ke rumahnya dan menawarkan akan membelikan baju untuknya sebagai hadiah, dia menjawab dengan sebuah ayat, baju yang bagus itu adalah taqwa. Masya Allah!

Manusia dan Fase Kehidupan
Lantas apa keterkaitan Ramadhan dengan fase kehidupan? Pertama, kita akan mencoba memahami terlebih dahulu tentang fase kehidupan manusia.Sejatinya, ada tiga fase kehidupan manusia:
Bahimiyyah. Kata ini berasal dari kata "bahim" yang arti harfiahnya adalah binatang. Dalam fase ini, manusia dikuasai oleh sifat-sifat binatang. Layaknya anak kecil, dia tidak akan malu ketika tidak berbusana -seperti binatang.
Basyariyah. Dalam fase ini, manusia dikuasai oleh sifat-sifat yag tidak baik tetapi masih dianggap wajar. Wajar ketika orang sedih karena dia tertimpa musibah. Wajar ketika orang menjadi marah karena dihina. Wajar jika manusia itu gembira saat mencapai kesuksesan.
'Ubudiyyah. Dalam fase ini, manusia dikuasai oleh sifat dan sikap yang baik yang dipersembahkan hanya untuk Allah.

Ramadhan dan Fase Kehidupan
Ramadhan adalah hamparan waktu yang dibentangkan Allah untuk kita menjadi golongan manusia yang berjalan mendahului matahari, menjadi manusia yang berkepribadian melampaui batas usia kita. Lantas bagaimana caranya? Jika kita ibaratkan Ramadhan itu adalah tamu, tentunya sebagai tuan rumah yang baik, kita akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut tamu kita. Karena kita pun tidak akan suka ketika menjadi tamu tetapi tidak disambut dengan kebaikan. Bukankah kita lebih suka bertamu di rumah yang bersih dan tuan rumahnya ramah daripada bertamu ke rumah yang kotor dan tuan rumahnya tidak ramah. Singkat kata, sebagai tuan rumah yang baik, mari kita sambut kedatangan 'tamu' (baca: Ramadhan) kita dengan:
1.    Membersihkan hati dengan taubat-taubat yang sebenar-benarnya. Taubat dengan menyesali semua dosa yang sudah kita lakukan, memohon ampunan pada Allah, dan berjanji untuk tidak mengulangi dosa-dosa itu.
2.    Menjadikan hati kita menjadi hati yang 'terbuka', yakni hati yang mudah tersentuh dan tergugah oleh pesan-pesan langit.
3.    Menyambut Ramadhan dengan taburan cahaya. Dua taburan cahaya terbaik adalah 'ingat mati dan rindu akhirat.'
4.    Menyambut Ramadhan dengan senyum. Dengannya kita akan selalu senang beribadah dan beramal di bulan yang penuh keberkahan.
5.    Menyuguhi Ramadhan dengan amal terbaik: i'tikaf, berdoa, dan tilawatil Qur'an.
Bagaimana kita bersiap menyambut Ramadhan, begitulah kita akan memetik hasilnya. Semakin kita bersegera dalam kebaikan, semakin kita menjadi manusia yang melampaui batas usia.
Wallahua'lam bishshawab

Maroji':
Kajian Masjid Mardhiyah UGM
Ust. Syatori Abdurrauf

Ditulis oleh Riffat el Shifa



1 Komentar :

zen
^^d
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

langganan RSS


Langganan RSS

salam sapa

Nama
http://
Pesan

Statistik

015654

Pengunjung hari ini : 31
Total pengunjung : 15654

Hits hari ini : 68
Total Hits : 36199

Pengunjung Online: 3

1