Minggu, 23 Agustus 2009 - 19:59:35 WIBPeningkatan Membaca, Salah Satu Wujud Ramadhan Prestatif!Diposting oleh : Zen Al Faruq
Kategori: Kiriman pembaca
- Dibaca: 276 kali
Oleh: Kukuh (Mahasiswa FMIPA UNY Angkatan 2005) Menjelang senja seorang lelaki setengah baya -berusia sekitar empat puluh tahun-, pada sebuah ruang gelap, di atas puncak bukit Hira sedang bertahanuts. Tiba-tiba saja sekujur tubuh lelaki itu gemetaran, basah oleh keringat dingin. Sesaat kemudian lelaki itu kedatangan malaikat Jibril yang mengucapkan salam kepadanya. Lalu malaikat Jibril berkata :"Bacalah!" Lelaki itu semakin gemetar, bibirnya terkatup, diam dan kalut, sehingga Jibril mengulangi perintahnya, "Bacalah, atas nama Tuhanmu, yang telah menciptakan!" Lantas Jibril perlahan menuntun berulang-ulang bacaan kepada lelaki itu penuh dengan kepastian dan seksama. "Bacalah!" Lelaki itu menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril lalu mendekati dan memeluknya erat sekali beberapa saat, lalu Jibril melepaskan pelukannya.
Kalimat perintah dari Jibril meluncur lagi, "Bacalah!" jawaban lelaki itu sama, "Aku tidak bisa membaca," Jibril mendekatinya lagi dan mendekap erat, sehingga lelaki itu merasa tak berdaya sama sekali. Pelukannya pun dilepaskan lagi. Dialog yang sama terjadi lagi. "Bacalah!" "Aku tidak bisa membaca!"
Untuk ketiga kalinya Jibril mendekati dan memeluk erat diri lelaki itu hingga lunglai. Jibril melepaskan pelukannya. Rentetan kalimat kemudian meluncur dengan deras dari Jibril. "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan." "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah." "Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah." "Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena." "Dia mengajarkan kepada manusia, apa yang belum diketahuinya." Imam Bukhari, salah seorang ahli hadits mendokumentasikan peristiwa tersebut.
Peristiwa di atas merupakan peristiwa Nuzulul Qur'an (permulaan turunnya ayat Al Qur'an) yang terjadi di gua Hira hari Senin, pada tanggal 17 Ramadhan atau 8 Agustus 610 Masehi, di mana saat itu sesuatu yang sangat penting dalam sejarah agama Islam sedang dimulai, yaitu sejarah diturunkannya ayat suci Al Qur'an yaitu QS. Al Alaq ayat 1-5 untuk pertama kalinya dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril. Al Qur'an yang akhirnya sebagai kitab suci umat Islam sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia serta pembeda antara yang haq dan bathil. "Pada bulan Ramadhan diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang bathil)." (QS. Al Baqarah [2]:185)
Pada peristiwa itu pula, Nabi Muhammad diangkat oleh Allah SWT dengan mendapatkan amanah sebagai Nabi dan Rasulullah (utusan Allah) yang bertugas menegakkan kalimatullah, membawa berita gembira dan pemberi peringatan kepada umat manusia dengan membawa misi kebenaran; dari keadaan yang jahiliyyah, bodoh, kafir, dan dzalim kepada kehidupan penuh iman, Islam, santun serta beradab.
Perintah Membaca! Banyak ulama berpendapat bahwa nama kitab suci Al Qur'an mempunyai hubungan erat dengan QS. Al Alaq (ayat yang pertama turun) yaitu "Iqra", termasuk penamaannya (ism) karena kata Al Qur'an berasal dari kata dasar qara'a yang dalam kalimat
amr'(perintah) dibaca
iqra yang berarti "membaca" (
qara'a), "bacaan" (
qur'an) dan "bacalah" (
iqra). Karenanya, Al Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan berfungsi sebagai petunjuk bagi segenap manusia harus melalui pintu dibaca dalam artian luas. Maka mustahil jika petunjuk kita peroleh, sementara kita tak pernah membaca.
Membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan. Karenanya, ayat Al Qur'an yang pertama kali turun bukan penekanan pada tauhid, ibadah, muamalah, maupun akhlaq. Melainkan perintah "membaca" karena membaca adalah gerbang untuk mengantarkan seseorang pada tauhid, ibadah, muamalah, dan akhlaq, juga bagaimana memahami sejarah sebagai teladan. Dengan membaca, sesuatu yang gelap menjadi tersingkap gamblang dengan berbagai aspeknya. Baik dalam kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat, maupun dalam hal keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara aspek dunia dan akhirat. Antara manusia dengan Penciptanya, antara manusia dengan sesamanya, maupun antara manusia dengan makhluk lain yang ada di sekitarnya.
Karenanya, Al Qur'an menganjurkan umat Islam untuk melakukan studi ilmiah alam semesta, segala sesuatu di alam semesta disediakan untuk kepentingan dan kebutuhan manusia, maka perlu diteliti dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Di samping itu, dengan kita melakukan penelitian yang diarahkan pada multivariasi fenomena alam sekitar, kita tentunya juga melakukan
dzikrullah (mengingat Allah) dan merasakan
muraqabatullah (dekat dengan Allah). Karena Islam mewajibkan setiap muslim mencari ilmu.
Menurut Malik bin Nabi, seorang pemikir muslim tersohor kelahiran Al Jazair, bahwa perintah membaca (
iqra) telah melahirkan peradaban baru bagi manusia. Karena wahyu itulah yang menjadi pedoman bagi manusia untuk menempuh jalan terbaik. Dari sinilah kemudian muncul sebuah peradaban umat yang agung dan paripurna. Sejarah membuktikan, bahwa sebelum Islam datang, bangsa Arab merupakan bangsa yang buta akan makna hidup serta belum mampu menggunakan potensi kemanusiaannya secara baik. Demikian pula dengan alam serta waktu yang mereka miliki, tak dapat menciptakan sebuah peradaban gemilang. Al Qur'an kemudian turun, lalu menjadi pedoman bagi umat Islam dan berkembang dalam sanubari mereka sehingga mampu membentuk peradaban baru.
Demikianlah perintah membaca (
iqra) telah terbukti mampu membangkitkan kesadaran umat yang terpuruk menjadi umat yang sejati dan ideal. Umat yang telah tercatat dalam tinta sejarah peradaban dunia, sebagai peradaban emas di sepanjang zaman. Mereka juga menyadari akan alamnya, karena dalam kitab sucinya memberikan arahan untuk memikirkan alam di sekitarnya. Kemudian lahirlah ribuan ulama dan cendekiawan muslim pada zamannya, seperti Al Khawarizmi (bapak aljabar), Ibnu Sina (dokter segala dokter), Al Haytsam (bapak Optik modern), Jabir Ibnu Al Haiyan (bapak kimia) dan lain-lain.. yang kemudian hari terbukti telah menjadi inspirasi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Manfaat Membaca! Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan membaca. Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni, dalam bukunya, "Laa Tahzan" mengungkapkan beberapa manfaat membaca, di antaranya sebagai berikut:
1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
2. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam jurang kebodohan.
3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
4. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
7. Dengan membaca, orang dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain; kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
8. Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam kehidupan.
9. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
10. Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model dan tipe kalimat. Lebih lanjut lagi, ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan memahami apa yang tertulis "di antara baris dengan baris" (memahami makna yang tersirat).
Kesimpulannya, masihkah kita akan terus-menerus menjadi manusia yang malas membaca?
Mari kita jadikan bulan Ramadhan sebagai Ramadhan Prestatif melalui peningkatan kualitas dan kuantitas membaca!
0 Komentar :
Isi Komentar :